Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer
logo-orbit
  • Current
  • Archives
  • Announcements
  • About
    • About the Journal
    • Submissions
    • Privacy Statement
    • Contact
  • Login

Search Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara

Press Enter to search · Esc to close Advanced search →
logo-orbit
  • Current
  • Archives
  • Announcements
  • About
    • About the Journal
    • Submissions
    • Privacy Statement
    • Contact
  • Login
Home/ Archives/ Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara
Vol. 2 No. 4 (2026): Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara

Vol. 2 No. 4 (2026)

Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara

Published June 6, 2026

Edisi ini telah tersedia sejak Juni 2026. Semua artikel dalam edisi ini ditulis bersama oleh 56 penulis yang berasal dari 2 Universitas dan 1 Negara (Indonesia).
19 articles 56 authors 1 countries
56
  • Articles

    Hubungan Motivasi Kerja dan Kepemimpinan dengan Kinerja Karyawan pada PT. X Madiun

    Fazha Salsabila Aprilya, Achmad Dwityanto Oktaviansyah

    Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia

    pp. 148-157 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.327
    PDF
    Abstract

    Persaingan bisnis yang semakin kompetitif menuntut perusahaan di Indonesia untuk mengelola sumber daya manusia secara optimal guna mempertahankan kinerja organisasi yang tinggi. Namun, fenomena penurunan kinerja karyawan masih menjadi permasalahan yang serius, salah satunya dipengaruhi oleh rendahnya motivasi kerja dan kurang optimalnya kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan motivasi kerja dan kepemimpinan dengan kinerja karyawan pada PT. X Madiun, baik secara simultan maupun parsial. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan melibatkan 119 karyawan aktif yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner valid dan reliabel yang didistribusikan secara online melalui Google Form. Analisis data menggunakan regresi linier berganda, uji F simultan, uji korelasi Pearson, analisis sumbangan efektif, dan analisis stepwise dengan bantuan software JAMOVI. Hasil uji F simultan menunjukkan bahwa motivasi kerja dan kepemimpinan secara bersama-sama berhubungan signifikan dengan kinerja karyawan (F = 824,54; R = 0,967; p < 0,001). Uji korelasi menunjukkan motivasi kerja berhubungan positif dan signifikan dengan kinerja karyawan (r = 0,921; p < 0,001), begitu pula kepemimpinan (r = 0,953; p < 0,001). Kepemimpinan memberikan sumbangan efektif sebesar 9,1% dan motivasi kerja sebesar 8,4% terhadap kinerja karyawan. Aspek Kebutuhan Penghargaan merupakan aspek yang paling dominan berhubungan dengan kinerja karyawan berdasarkan analisis stepwise (R = 0,967). Implikasinya, PT. X Madiun perlu lebih memperhatikan sistem penghargaan, pengembangan karir, serta kualitas kepemimpinan guna meningkatkan kinerja karyawan secara optimal dan berkelanjutan.

  • Articles

    Hubungan antara Kualitas Attachment Orang Tua dengan Perilaku Phubbing pada Remaja

    Selly Dwining Maulidina, Andreas Corsini Widya Nugraha, Arfian Arfian

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 158-168 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.322
    PDF
    Abstract

    Hubungan antara Kualitas Attachment Orang Tua Dengan Perilaku Phubbing Pada Remaja. Perilaku phubbing merupakan kecenderungan individu untuk mengabaikan orang lain dalam interaksi tatap muka karena lebih memusatkan perhatian pada penggunaan smartphone. Fenomena ini semakin sering ditemukan pada remaja dan dapat berdampak pada kualitas hubungan sosial maupun hubungan dengan keluarga. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan perilaku phubbing adalah kualitas attachment orang tua, yaitu ikatan emosional yang ditandai dengan adanya kepercayaan, komunikasi yang baik, dan rendahnya keterasingan antara orang tua dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas attachment orang tua dengan perilaku phubbing pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian berjumlah 813 siswa kelas X dan XI SMA Negeri X. Sampel penelitian sebanyak 243 siswa dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Setelah proses screening dan penghapusan outlier, data yang dianalisis berasal dari 185 responden. Pengumpulan data menggunakan skala Perilaku Phubbing berdasarkan teori Karadağ et al. (2015) dan skala Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) dari Armsden dan Greenberg (1987). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kualitas attachment orang tua dengan perilaku phubbing pada remaja dengan nilai koefisien korelasi sebesar r=−0,157 dan nilai signifikansi sebesar p=0,033 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kualitas attachment orang tua, maka semakin rendah perilaku phubbing pada remaja, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, orang tua disarankan meningkatkan kualitas komunikasi, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan remaja untuk meminimalkan kecenderungan perilaku phubbing.

  • Articles

    Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Verbal Aggressiveness pada Dewasa Awal Pemain Aktif Game Online Mobile Legends

    Sausan Salsabila, Sarita Candra Merida, Tugimin Supriyadi

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 169-177 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.338
    PDF
    Abstract

    Perilaku verbal aggressiveness merupakan salah satu bentuk perilaku agresif yang sering muncul pada pemain game online, terutama dalam permainan yang bersifat kompetitif seperti Mobile Legends. Salah satu faktor yang diduga berkaitan dengan perilaku tersebut adalah konformitas teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konformitas teman sebaya dan verbal aggressiveness pada dewasa awal pemain aktif game online Mobile Legends. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 197 dewasa awal berusia 20–40 tahun yang merupakan pemain aktif Mobile Legends dan diperoleh menggunakan teknik non-probability sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Konformitas Teman Sebaya dan Skala Verbal Aggressiveness yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas teman sebaya dan verbal aggressiveness (r = 0,157; p = 0,028). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konformitas teman sebaya, semakin tinggi kecenderungan verbal aggressiveness pada dewasa awal pemain aktif Mobile Legends. Meskipun demikian, kekuatan hubungan yang diperoleh berada pada kategori sangat lemah, sehingga mengindikasikan bahwa verbal aggressiveness juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar konformitas teman sebaya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian psikologi sosial, khususnya yang berkaitan dengan perilaku komunikasi pada pemain game online.

  • Articles

    Hubungan antara Perceived Anonymity dengan Cyber Aggression pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial X

    Raihan Pamungkas, Erik Saut Hatoguan Hutahaean, Ferdy Muzzamil

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

    pp. 178-187 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.335
    PDF
    Abstract

    Cyber aggression menjadi sebuah permasalahan yang sering ditemukan dalam interaksi online di media sosial akibat hilangnya hambatan perilaku daring yang dipengaruhi oleh faktor psikologis berupa persepsi anonimitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara perceived anonymity dengan cyber aggression pada dewasa awal pengguna media sosial X. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan 175 responden berusia 18-25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi skala Cyber Aggression Types Questionnaire (CATQ) dan skala Perceived Anonymity. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi sederhana Spearman’s rho (p < 0.05). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan secara statistik, meskipun kekuatan hubungannya tergolong lemah (r = 0.1567; p = 0.038). Hasil ini menyatakan bahwa semakin tinggi persepsi anonimitas yang dimiliki pengguna, maka semakin tinggi kecenderungannya untuk terlibat dalam perilaku cyber aggression. Namun, lemahnya korelasi mengindikasikan bahwa pengguna cenderung jarang terlibat melakukan perilaku agresif siber di media sosial X. Dengan demikian, cyber aggression yang dapat dijelaskan oleh perceived anonymity hanya memberikan efek kecil dan sebagai salah satu variasi diantara faktor lainnya.

  • Articles

    Pengaruh Self-Compassion terhadap Loneliness pada Mahasiswa Rantau

    Widaderevi Tryanthamie Najla Ufairah, Hema Dayita, Andreas Corsini Widya Nugraha

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 188-197 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.343
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-compassion terhadap loneliness pada mahasiswa rantau Universitas Negeri Jakarta. Mahasiswa rantau rentan mengalami loneliness akibat perubahan lingkungan, keterbatasan dukungan sosial, serta beragam tuntutan di daerah perantauan. Self-compassion dipandang sebagai salah satu faktor psikologis yang dapat membantu individu menghadapi kesulitan dan mengurangi perasaan loneliness. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel penelitian berjumlah 212 mahasiswa rantau. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat ukur UCLA Loneliness Scale Version 3 yang dikembangkan oleh Russell dan Self-compassion Scale (SCS) yang dikembangkan oleh Neff. Analisis data yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji linearitas, dan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-compassion memiliki arah pengaruh negatif terhadap loneliness, namun pengaruh tersebut tidak signifikan secara statistik (F = 3,644; p = 0,058). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,017 menunjukkan bahwa self-compassion hanya memberikan kontribusi sebesar 1,7% terhadap loneliness, sedangkan 98,3% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, self-compassion tidak terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap loneliness pada mahasiswa rantau Universitas Negeri Jakarta.

  • Articles

    Pengaruh Konsep Diri terhadap Kecemasan Berbicara di Depan Umum pada Siswa di SMA X di Kabupaten Bekasi

    Eliza Agustina, Lenny Utama Afriyenti, Rizma Afian Azhiim

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 198-205 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.339
    PDF
    Abstract

    Kecemasan berbicara di depan umum merupakan salah satu permasalahan yang sering dialami siswa SMA dan diduga dipengaruhi oleh konsep diri. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsep diri terhadap kecemasan berbicara di depan umum serta kontribusi setiap dimensi konsep diri pada siswa kelas X dan XI SMAN 1 Setu Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kausal terhadap 289 siswa yang dipilih menggunakan teknik stratified cluster random sampling. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dan regresi linear berganda metode stepwise. Hasil menunjukkan bahwa konsep diri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kecemasan berbicara di depan umum. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa dimensi penyesuaian emosional, kejujuran, dan pemenuhan diri berpengaruh signifikan, sedangkan dimensi otonomi tidak berpengaruh signifikan.

  • Articles

    Psychological Well-Being pada Generasi Z Penggemar K-Pop NCT (NCTzen)

    Salsa Desembriyanti, Sarita Candra Merida, Tugimin Supriyadi

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 206-219 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.351
    PDF
    Abstract

    Fenomena Korean Wave (Hallyu) telah meningkatkan popularitas Korean Pop (K-Pop) di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu grup K-Pop yang memiliki basis penggemar besar adalah NCT dengan fandom yang dikenal sebagai NCTzen. Aktivitas sebagai penggemar tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis individu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada Generasi Z penggemar K-Pop NCT (NCTzen). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode try out terpakai (try out terpakai) terhadap 120 responden Generasi Z penggemar NCT. Instrumen penelitian menggunakan skala Psychological Well-Being berdasarkan teori Ryff yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 27 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 113 responden (94,2%) memiliki tingkat psychological well-being tinggi, 3 responden (2,5%) berada pada kategori sedang, dan 4 responden (3,3%) berada pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas Generasi Z penggemar NCT memiliki psychological well-being yang baik. Aktivitas sebagai penggemar NCT dapat menjadi sumber hiburan, dukungan emosional, serta motivasi yang berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis responden.

  • Articles

    Hubungan antara Work-Life Balance dengan Stres Kerja pada Pekerja

    Dini Iswari Amaliani, Budi Sarasati, Nurwahyuni Nasir

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 220-225 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.357
    PDF
    Abstract

    Tingginya tuntutan pekerjaan, sistem kerja yang padat, serta keterbatasan waktu untuk kehidupan pribadi dapat memunculkan ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan non kerja. Ketidakseimbangan tersebut berpotensi meningkatkan stres kerja, terutama pada pekerja yang berada dalam lingkungan kerja dengan tuntutan fisik dan psikologis yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara work life balance dan stres kerja pada pekerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Responden penelitian berjumlah 106 pekerja aktif yang memenuhi kriteria penelitian, yaitu memiliki masa kerja 4–6 tahun dan bekerja pada sektor industri lepas pantai. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan Perceived Stress Scale dan Work Life Balance Scale. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s Rho karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara work life balance dan stres kerja (r = -0,696; p < 0,001). Artinya, semakin tinggi work life balance yang dimiliki pekerja, semakin rendah tingkat stres kerja yang dialami. Sebaliknya, semakin rendah work life balance, semakin tinggi stres kerja. Hasil kategorisasi juga menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki work life balance rendah dan stres kerja tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi sebagai salah satu upaya untuk menurunkan risiko stres kerja pada pekerja lepas pantai.

  • Articles

    Hubungan antara Kontrol Diri dengan Fear of Missing Out (FoMO) pada Generasi Z dalam Pembelian Produk Skincare

    Arizki Arizki, Erik Saut H.Hutahaean, Ferdy Muzzamil

    Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 226-230 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.333
    PDF
    Abstract

    Perkembangan industri skincare di Indonesia yang semakin pesat telah mendorong Generasi Z menjadi salah satu kelompok konsumen yang aktif mengikuti tren kecantikan melalui media sosial. Paparan informasi yang terus-menerus dari platform digital seperti TikTok dan Instagram berpotensi memunculkan Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan khawatir atau takut tertinggal informasi, pengalaman, maupun tren yang sedang berkembang. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan dalam menekan munculnya FoMO adalah kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dan FoMO pada Generasi Z dalam pembelian produk skincare. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian berjumlah 120 responden Generasi Z yang membeli produk skincare, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala kontrol diri berdasarkan aspek Averill (1973) dan skala FoMO berdasarkan dimensi (Sette et al., 2019). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dan FoMO dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = -0,547 dan p < 0,001. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki individu, maka semakin rendah tingkat FoMO yang dialaminya. Sebaliknya, semakin rendah kontrol diri, semakin tinggi kecenderungan individu mengalami FoMO. Temuan ini mengindikasikan bahwa kontrol diri berperan penting dalam membantu Generasi Z mengendalikan dorongan untuk mengikuti tren skincare yang berkembang di media sosial sehingga dapat membuat keputusan pembelian yang lebih rasional dan sesuai kebutuhan.

  • Articles

    Hubungan antara Stres Kerja dengan Aggresive Driving pada Ojek Online

    Sahrul Layali, Tugimin Supriyadi, Sandra Adetya

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 231-237 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.345
    PDF
    Abstract

    Perkembangan transportasi berbasis aplikasi menyebabkan pengemudi ojek online menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan yang berpotensi menimbulkan stres kerja dan memengaruhi perilaku berkendara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan aggressive driving pada pengemudi ojek online di Kota Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 113 pengemudi Grab yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Likert untuk mengukur stres kerja dan aggressive driving. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara stres kerja dengan aggressive driving dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,533 dan nilai signifikansi p < 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres kerja yang dialami pengemudi, semakin tinggi pula kecenderungan melakukan aggressive driving. Dengan demikian, pengelolaan stres kerja menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi perilaku mengemudi agresif serta meningkatkan keselamatan berkendara pada pengemudi ojek online.

  • Articles

    Hubungan Agresivitas Verbal dengan Perilaku Cyberbullying di Kalangan Gen Z pada Pengguna Tiktok

    Ikawati Ratnaduhita, Ferdy Muzzamil, Rizma Afian Azhiim

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 238-244 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.329
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini disusun untuk menguji keterkaitan antara agresivitas verbal dengan kemunculan perilaku cyberbullying pada Generasi Z pengguna TikTok di Kota Bekasi. Maraknya penggunaan TikTok di kalangan generasi muda turut membuka ruang bagi munculnya interaksi yang tidak sehat secara daring, salah satunya cyberbullying, yang diduga sebagian dipicu oleh tingginya kecenderungan agresivitas verbal individu. Desain yang digunakan adalah kuantitatif korelasional, dengan 120 responden Generasi Z berusia 14-29 tahun berdomisili di Bekasi dan aktif menggunakan TikTok, dijaring melalui purposive sampling. Data dijaring lewat dua instrumen, yakni Cyberbullying Offending Scale (COS) hasil adaptasi dari Hinduja dan Patchin (2015) berisi 9 aitem, serta Verbal Aggressiveness Scale (VAS) hasil adaptasi dari Infante dan Wigley (1986) berisi 20 aitem. Karena data kedua variabel tidak berdistribusi normal, pengujian hubungan memakai korelasi Spearman's rho berbantuan JASP. Hasilnya memperlihatkan koefisien sebesar 0,677 dengan p < 0,001, yang berarti Ha diterima: terdapat hubungan positif yang kuat antara agresivitas verbal dan cyberbullying. Artinya, makin tinggi agresivitas verbal seseorang, makin besar pula kecenderungannya berperilaku cyberbullying. Secara deskriptif, sebagian besar responden (57,50%) berada pada taraf agresivitas verbal sedang, sementara untuk cyberbullying, mayoritas (51,67%) juga pada taraf sedang. Ditemukan pula perbedaan bermakna pada cyberbullying menurut jenis kelamin (p = 0,048) dan usia (p = 0,030), dengan rerata yang lebih tinggi pada laki-laki dan kelompok usia 20-24 tahun.

  • Articles

    Hubungan Kepercayan Diri dengan Perilaku Asertif Mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan di Kota Bekasi

    Ghina Rizkirabbani Labibah, Sarita Candra Merida, Tugimin Supriyadi

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 245-255 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.350
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku asertif pada mahasiswa yang mengikuti organisasi kemahasiswaan di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian berjumlah 118 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala perilaku asertif berdasarkan aspek Alberti dan Emmons serta skala kepercayaan diri berdasarkan aspek Lauster. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,802 pada skala perilaku asertif dan 0,978 pada skala kepercayaan diri. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan Jeffreys’s Amazing Statistics Program(JASP). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kepercayaan diri dengan perilaku asertif pada mahasiswa yang mengikuti organisasi kemahasiswaan di Kota Bekasi (r = 0,645; p < 0,001). Hubungan kedua variabel berada pada kategori kuat, sehingga hipotesis alternatif diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi cenderung memiliki perilaku asertif yang lebih tinggi dalam organisasi kemahasiswaan.

  • Articles

    Hubungan Social Support dengan Quarter Life Crisis Pada Perempuan dalam Fase Emerging Adulthood

    Nursyaniah Siregar, Lenny Utama Afriyenti, Rizma Afian Azhiim

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 256-264 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.373
    PDF
    Abstract

    Quarter life crisis merupakan kondisi psikologis yang umum dialami individu pada fase emerging adulthood, ditandai dengan kebingungan dalam menentukan arah hidup, kecemasan terhadap masa depan, serta tekanan dalam memenuhi tuntutan perkembangan. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam membantu individu menghadapi kondisi tersebut adalah social support. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social support dengan quarter life crisis pada perempuan dalam fase emerging adulthood. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan convenience sampling dengan melibatkan 116 perempuan berusia 18–25 tahun. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Quarter Life Crisis Scale. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara social support dengan quarter life crisis (r = -0,108; p = 0,249). Selain itu, tingkat social support responden berada pada kategori tinggi, sedangkan tingkat quarter life crisis berada pada kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa social support bukan merupakan satu-satunya faktor yang memengaruhi quarter life crisis pada perempuan dalam fase emerging adulthood. Faktor-faktor lain, seperti karakteristik individu, kondisi psikologis, pengalaman hidup, maupun faktor lingkungan, diduga turut berkontribusi terhadap munculnya quarter life crisis. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji variabel lain yang berpotensi memengaruhi quarter life crisis sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang berperan dalam proses transisi menuju dewasa.

  • Articles

    Pengaruh Keterlibatan Peran Ayah terhadap Pemilihan Pasangan pada Perempuan Dewasa yang Belum Menikah

    Nurli Septiani, Sandra Adetya Syarif, Mic Finanto Ario Bangun

    Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jawa Barat, Indonesia

    pp. 265-276 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.348
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan peran ayah terhadap pemilihan pasangan pada perempuan dewasa yang belum menikah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemilihan pasangan sebagai salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa serta belum konsistennya hasil penelitian mengenai hubungan kedua variabel tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linier sederhana. Partisipan berjumlah 134 perempuan dewasa yang belum menikah berusia 20–30 tahun di Indonesia yang pernah tinggal bersama ayah minimal lima tahun pada masa kanak-kanak. Sampel diperoleh menggunakan teknik convenience sampling. Instrumen penelitian terdiri atas Father Involvement Scale (FIS) dan Nine Mate Selection Question (NMSQ). Analisis data menggunakan korelasi Spearman's Rho dan regresi linier sederhana dengan bantuan JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan peran ayah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pemilihan pasangan. Nilai korelasi sebesar r = 0,159 menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan sangat lemah. Koefisien determinasi (R² = 0,058) menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memberikan kontribusi sebesar 5,8% terhadap pemilihan pasangan, sedangkan 94,2% dipengaruhi faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin baik pertimbangan perempuan dalam memilih pasangan hidup.

  • Articles

    Lingkungan Kerja Sebagai Prediktor terhadap Munculnya Burnout Pada Perawat di Kota Bekasi

    Ananda Septia Azahra, Netty Merdiaty, Sulistiasih Sulistiasih

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 277-285 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.340
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap burnout pada perawat di Kota Bekasi. Penelitian ini didasari oleh adanya fenomena burnout yang dialami perawat akibat tuntutan pekerjaan yang tinggi, beban kerja yang berat, serta kondisi lingkungan kerja yang kurang mendukung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana. Populasi penelitian berjumlah 5.718 perawat yang bekerja di Kota Bekasi. Sampel penelitian berjumlah 382 perawat yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala lingkungan kerja yang diadaptasi dari Practice Environment Scale of the Nursing Work Index (PES-NWI) berdasarkan teori Lake (2002) dan skala burnout yang disusun berdasarkan Maslach Burnout Inventory (MBI) berdasarkan teori Maslach dan Jackson (1981). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap burnout (p < 0,001), dengan koefisien korelasi (R) sebesar 0,408 dan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,166. Hasil ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja memberikan kontribusi sebesar 16,6% terhadap burnout pada perawat, sedangkan 83,4% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa lingkungan kerja tidak selalu berdampak negatif terhadap burnout. Oleh karena itu, bagi rumah sakit diharapkan untuk memperkuat dukungan melalui peningkatan komunikasi antara pimpinan dan perawat.

  • Articles

    Analisis Item dan Reliabilitas Skala Problematic Internet Use Questionnaire Short-Form 6 (PIUQ-SF6) Versi Indonesia Berdasarkan Sampel Generasi Z Pengguna Internet Aktif di Bekasi

    Layla Putri Amalya, Rizma Afian Azhiim, Ferdy Muzzamil

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 286-290 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.323
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat atau kecenderungan Problematic Internet Use pada Generasi Z pengguna internet aktif di Bekasi. Sebanyak 119 responden yang kelahiran 1997-2012 (14-29 tahun) berpatisipasi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran menggunakan Problematic Internet Use Questionnaire Short-Form 6 (PIUQ-SF-6) yang terdiri dari 6 item favorable yang mencangkup aspek Obsession, Neglect, dan Control Disorder. Uji reliabilitas menunjukkan bahwa skala Problematic Internet Use memperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,8352. Hasil menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang sebanyak 80 orang (67%). Sementara itu, responden yang berada pada kategori tinggi sebanyak 27 orang (23%) dan terdapat responden yang berada pada kategori rendah sebanyak 12 orang (10%). Selanjutnya, analisis item menghasilkan korelasi antara 0,5702 - 0,6557 yang menunjukkan seluruh item valid dan memiliki daya beda baik. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas Generasi Z pengguna internet aktif di Bekasi dalam penelitian ini memiliki tingkat Problematic Internet Use yang relatif sedang.

  • Articles

    Gambaran Psychological Well-Being pada Komunitas Lari GBK di Jakarta

    Ivan Maulana Ibrahim, Lenny Utama Afriyenti, Rizma Afian Azhiim

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 291-301 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.344
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada komunitas lari GBK di Jakarta. Psychological well-being merupakan kondisi individu yang mampu berfungsi secara optimal dalam kehidupannya, yang ditandai dengan kemampuan menerima diri, menjalin hubungan positif dengan orang lain, memiliki kemandirian, mengelola lingkungan, memiliki tujuan hidup, serta terus mengembangkan potensi diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 303 anggota komunitas lari GBK di Jakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Ryff Psychological Well-being Scale. Analisis data meliputi statistic deskriptif, uji normalitas, kategorisasi penelitian, dan uji hipotesis dengan One Sample Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat psychological well-being pada kategori tinggi, yaitu sebanyak 91%. Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai V = 46.010 dengan p < 0,001, sehingga dapat disimpulkan bahwa Tingkat psychological well-being pada komunitas lari GBK di Jakarta berada pada kategori secara signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa anggota komunitas lari GBK di Jakarta memiliki psychological well-being yang sangat baik. Oleh karena itu, keterlibatan dalam komunitas lari diharapkan dapat terus dipertahankan sebagai salah satu upaya mendukung Kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anggota komunitas lari GBK di Jakarta.

  • Articles

    Hubungan antara Kontrol Sosial dengan Perilaku Cyberbullying pada Remaja Pengguna Media Sosial

    Galih Adam Saputra, Yuarini Wahyu Pertiwi, Wahyu Aulizalsini Alurmei

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 302-308 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.353
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kontrol sosial dengan perilaku cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Fenomena cyberbullying semakin meningkat seiring berkembangnya penggunaan media sosial di kalangan remaja, salah satunya ditandai dengan munculnya perilaku flaming, yaitu komentar atau unggahan yang bernada menghina, mengejek, atau menyerang individu lain secara daring. Salah satu faktor yang diduga berperan terhadap perilaku tersebut adalah kontrol sosial, yakni kemampuan individu mengendalikan perilaku berdasarkan nilai, norma, dan ikatan sosial yang dimilikinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional, melibatkan 150 remaja pengguna Instagram dan/atau TikTok di Kota Bekasi (68 laki-laki, 82 perempuan) yang diperoleh melalui teknik non-probability sampling jenis convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Social Bond Scale untuk mengukur kontrol sosial dan Cyberbullying Offending Scale untuk mengukur perilaku cyberbullying. Hasil uji asumsi menunjukkan data berdistribusi normal dan hubungan antarvariabel bersifat linear. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kontrol sosial dengan perilaku cyberbullying (r = -0,253; p = 0,002), yang berarti semakin tinggi kontrol sosial yang dimiliki remaja, semakin rendah kecenderungan mereka melakukan cyberbullying. Temuan ini mendukung relevansi teori kontrol sosial Hirschi dalam menjelaskan perilaku menyimpang remaja di ranah digital dan diharapkan dapat menjadi acuan bagi upaya pencegahan cyberbullying melalui penguatan ikatan sosial remaja.

  • Articles

    Pengaruh Job Insecurity terhadap Burnout pada Pekerja Gen Z di Bekasi Timur

    Cartisa Salsabila, Netty Merdiaty, Sulistiasih Sulistiasih

    Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Jakarta, Indonesia

    pp. 309-315 DOIhttps://doi.org/10.63217/orbit.v2i4.384
    PDF
    Abstract

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh job insecurity terhadap burnout pada pekerja Generasi Z di Bekasi Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 175 pekerja Generasi Z berusia 20-29 tahun yang aktif bekerja di Bekasi Timur, dipilih menggunakan teknik non-probability sampling melalui purposive sampling yang dipadukan dengan convenience sampling. Instrumen penelitian meliputi Skala Job Insecurity (10 aitem valid, α = 0,817) dan Skala Burnout (11 aitem valid, α = 0,882). Data dianalisis menggunakan Spearman Rank Correlation dan regresi linear sederhana dengan metode bootstrap (5.000 replicates). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara job insecurity dan burnout (ρ = 0,587, p < 0,001). Analisis regresi menunjukkan bahwa job insecurity berpengaruh secara signifikan terhadap burnout (B = 0,810, β = 0,640, F = 120,2, p < 0,001) dengan kontribusi sebesar 41,0% terhadap variasi burnout (R² = 0,410). Kategorisasi variabel menunjukkan bahwa 84,6% responden mengalami job insecurity tinggi, dan 79,4% mengalami burnout tinggi. Analisis perbedaan demografis menunjukkan pekerja laki-laki mengalami tingkat job insecurity dan burnout yang signifikan lebih tinggi dibandingkan perempuan, serta tingkat burnout meningkat seiring bertambahnya usia dan lama bekerja. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa job insecurity merupakan prediktor yang kuat bagi munculnya burnout pada pekerja Generasi Z sesuai Job Demands-Resources (JD-R) Model.

Journal Orbit Menu

Journal Orbit Menu
  • Reviewers
  • Peer Review Process
  • Focus and Scope
  • Publication Ethics
  • Author Guidelines
  • Plagiarism Policy
  • Article Processing Charge
  • Open Access Statement
  • Copyright and License
  • Statistics
  • Digital Archiving Policy
  • Histori Jurnal

Journal Visitor

Jurnal Visitor

Flag Counter

Tools

Recomended Tools

Latest publications

Atom RSS 2.0 RSS 1.0

Information

For Readers For Authors For Librarians
logo-orbit

Orbit: Jurnal Ilmu Multidisiplin Nusantara

e-ISSN 3064-5883

Editorial Office

  • inovan.info@gmail.com
  • +62 821-2435-5730
© 2026 Inovan Publisher Theme Zenith by Nosadev